Pembagian zakat berdarah PDF Print E-mail

Insiden pembagian zakat yang merenggut 21 korban jiwa di Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9), adalah peristiwa kali kesekian. Ironisnya, peristiwa semacam itu selalu saja berulang. Meski maksudnya baik, praktik seperti ini menuai kritik karena pada akhirnya justru membahayakan orang lain.

Dua puluh satu orang tewas dan puluhan lainnya tak sadarkan diri akibat berdesak-desakan saat pembagian zakat oleh Haji Syaikon, seorang dermawan di Pasuruan. Korban tewas maupun luka-luka, kini sudah dibawa ke Rumah Sakit dokter Sudarsono, Pasuruan.

Ribuan warga yang sejak pagi sudah berkumpul di dekat halaman rumah Syaikon, langsung berebut masuk untuk mendapatkan uang zakat senilai Rp 30 ribu per orang. Tak sedikit warga yang terjepit dan pingsan akibat berdesak-desakan. Tidak berhenti di situ, saling desak ini pun merenggut korban jiwa.

Saat itu para korban langsung dibawa ke Rumah Sakit dokter Sudarsono di kawasan Purut, Pasuruan. Karena ricuh, pembagian zakat itu kemudian dihentikan.

Pembagian zakat seperti ini selalu diadakan keluarga Haji Syaikon saban tahun, tepatnya setiap hari ke-15 bulan Ramadan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara tadi pagi juga dipadati ribuan warga Kota Pasuruan dan sekitarnya.

Karena kegiatan itu tak dilaporkan, polisi mengaku tidak tahu. Alhasil, tidak ada polisi yang diturunkan untuk menjaga dan mengatur antrean warga. Menyusul insiden itu, polisi membawa Haji Syaikon ke Markas Kepolisian Resor Kota Pasuruan guna dimintai keterangannya.


Salah satu model pembagian zakat dan sedekah yang berpotensi ricuh pernah terjadi di Pati, Jawa Tengah, 10 Oktober 2007. Saat itu seorang pengusaha membagikan kupon pengambilan uang Rp 20 ribu untuk 600 orang. Padahal, warga miskin yang datang lebih dari seribu. Bisa diduga, ujung-ujungnya ricuh. Saling berebut dan berdesakan mewarnai pembagian zakat dan bahan makanan pokok murah untuk warga miskin di beberapa daerah di Tanah Air. Di Pati, Jawa Tengah, misalnya. Rabu (10/10), pembagian zakat diwarnai saling dorong karena jumlah zakat yang dibagikan tak seimbang dengan penerimanya.

Entah disadari atau tidak, cara pembagian zakat oleh seorang pengusaha di Pati, membuat seribu lebih warga miskin harus berebutan untuk mendapatkannya. Maklumlah, zakat yang dibagikan hanya untuk 600 penerima. Tak aneh, bila kemudian mereka rela berdesak-desakan saat pembagian kupon. Bahkan, mereka yang tak kebagian kupon mencoba merebut paket zakat berupa duit Rp 20 ribu beserta paket bahan makanan. Polisi yang membantu panitia pun sempat kewalahan mengatasinya.

Suasana hampir serupa terjadi saat Idham Samawi selaku Bupati Bantul, Yogyakarta, Rabu ini membagikan zakatnya kepada warganya yang kurang mampu. Ribuan orang dibiarkan antre berjam-jam di depan rumah dinas bupati untuk mendapatkan zakat sebesar Rp 20 ribu per orang. Sang bupati menyiapkan 7.000 paket zakat, namun kaum duafa yang antre jumlahnya lebih banyak sehingga ratusan orang tetap tak kebagian.

Setiap penerima menunjukkan kartu tanda penduduk dan mencelupkan jari sebagai penanda sudah memperoleh zakat. Sayangnya, Bupati Idham Samawi justru membiarkan warganya menunggu berjam-jam. Andai Bupati Bantul berkoordinasi dengan camat dan lurah, pembagian zakat boleh jadi berjalan tertib dan tidak perlu mengantre lama.

Pembagian sembilan bahan makanan pokok alias sembako gratis oleh Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, kepada warganya yang kurang mampu di Stadion Sriwedari juga diwarnai rebutan. Ribuan orang yang berharap mendapat sembako senilai Rp 50 ribu mulai menanti sejak di pintu masuk stadion. Begitu pintu stadion dibuka, warga yang sudah tidak sabaran saling berebutan dan dorong.

Para bocah dan orang tua yang tak kuat berdesak-desakan terpaksa dievakuasi dari kerumunan massa. Mereka khawatir tidak kebagian sembako yang sangat berarti di saat harga bahan pokok sudah tak terjangkau. Patut disayangkan pula, pemerintah kota belum memiliki mekanisme pembagian sembako gratis sehingga kaum duafa dibiarkan berebutan.

Pun demikian di Semarang, Jateng. Pada 9 Oktober 2007, seorang agen minyak membagikan uang Rp 6.000 untuk anak-anak dan Rp 12 ribu untuk orang dewasa yang digelar di depan rumahnya. Sayangnya, niat baik itu tanpa pengamanan yang ketat. Lebih tiga ribu orang menunggu sejak pagi, padahal uang baru dibagikan siang hari.

Kepedihan dan duka mendalam memang tak ada yang mengharapkan. Dalam insiden pembagian zakat oleh seorang pengusaha sarung di Gresik, Jawa Timur, 28 September 2007, seorang warga meninggal dan lima lainnya luka akibat terinjak-injak.

Insiden demi insiden yang merenggut korban dalam pembagian zakat dan sedekah terus berulang. Boleh jadi, kegemaran sejumlah pengusaha untuk menzakatkan hartanya secara langsung kepada fakir miskin tak lepas dari indikasi ketidakpercayaan mereka terhadap lembaga pengelola zakat.

Namun cara ini dikritik Ketua Komisi VIII DPR Hasrul Azwar karena tanpa koordinasi dan pengamanan ketat sehingga membahayakan nyawa orang lain. "Jangan dibagikan [secara] terbuka," ucap Hazrul. Ia menyarankan zakat itu dibagikan secara beranting atau berjenjang dan uangnya dimasukkan ke dalam amplop.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly:
:dry::lol::kiss::D:pinch::(:shock:
:X:side::):P:unsure::woohoo::huh:
:whistle:;):s
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Olahraga

Olahraga

Ekonomi Bisnis

  • Harga Minyak Bervariasi, Pasar Fokus pada Lemahnya Pemintaaan
    Harga minyak bervariasi, Selasa, sehubungan kecemasan pasar atas lemahnya permintaan lebih dominan ketimbang kekhawatiran pasokan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitis di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak dan perang gas antara Rusia dan Ukraina.
 

"Indonesians’

Game RPG Online TRIVIAN

Who's Online

We have 2822 guests online