|
Di Gresik (daerah Leran) ditemukan batu bertahun 1082 Masehi berhuruf
Arab yang menceritakan bahwa telah meninggal seorang perempuan bernama
Fatimah binti Maimun yang beragama Islam.
Lalu disekitar tahun 1350 saat memuncaknya kebesaran Majapahit, di
pelabuhan Tuban dan Gresik banyak kedatangan para pedagang Islam dari
India dan dari kerajaan Samudra (Aceh Utara) yang juga awalnya
merupakan bagian dari Majapahit, disamping para pedagang Majapahit yang
berdagang ke Samudra. Juga menurut cerita, ada seorang putri Islam
berjuluk Putri Cempa dan Putri Cina yang menjadi isteri salah satu raja
Majapahit.
Sangat toleransinya Majapahit terhadap Islam terlihat dari banyaknya
makam Islam di desa Tralaya, dalam kota kerajaan, dengan angka tertua
di batu nisan adalah tahun 1369 (saat Hayam Wuruk memerintah).
Yang menarik, walau kuburan Islam tetapi bentuk batu nisannya seperti
kurawal yang mengingatkan kala-makara, berangka tahun huruf Kawi, yang
berarti bahwa di abad XIV Islam walau agama baru bagi Majapahit tetapi
sebagai unsur kebudayaan telah diterima masyarakat.
Diketahui pula bahwa para pendatang dari barat maupun orang-orang
Tionghoa ternyata sebagian besar beragama Islam, yang terus berkembang
dan mencapai puncaknya di abad XVI saat kerajaan Demak |
|
Read more...
|
|
|
Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam sekitar tahun 1500 bernama Raden Patah/Jin
Bun/Rd. Bintoro dan berkedudukan di Demak, secara terbuka memutuskan
ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan
daerah-daerah lain yang telah Islam (seperti Gresik, Tuban dan Jepara),
ia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Demak.
Putra lainnya bernama Bondan Kejawan/ Lembupeteng di Tarub mengawini
Rr. Nawangsih (anak dari hasil perkimpoian antara Joko Tarub dan Rr.
Nawangwulan) mempunyai cucu dari anaknya bernama Kyai Ageng Getas/R.
Depok di Pandowo, yaitu Kyai Ageng Selo/Bagus Songgom/Risang
Sutowijoyo/Syeih Abdurrahman.
Putra lain dari Brawijaya yang bernama Lembupeteng juga berkedudukan di
Gilimangdangin/Sampang, mempunyai cucu buyut bernama raden Praseno yang
menjadi adipati Sampang, berjuluk Cakraningrat I, yang mana putranya
yang bernama pangeran Undakan menggantikannya dan bergelar cakraningrat
II, sedang putra yang satunya lagi mempunyai anak yaitu Trunojoyo.
Sedang putri dari Brawijaya yaitu Ratu Pambayun yang kimpoi dengan Pn.
Dayaningrat mempunyai 2 (dua) anak bernama Kebokanigoro dan
Kebokenongo/Ki Ageng Pengging yang menjadi teman dekat seorang wali
kontraversial yaitu Syeh Siti Jenar.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
|
Page 1 of 5 |
kisah
kisah nabi
yuu.. ikutan IBSN Blog Award di canti...